Ketika sebuah pengiriman melewati truk, kereta api, lalu kapal, yang paling sering menahan lajunya bukan salah satu moda itu sendiri. Yang menahan adalah jeda di antaranya: dokumen yang harus diterbitkan ulang, penanggung jawab yang berganti, dan jam-jam ketika kontainer hanya menunggu kepastian.
Setiap perpindahan menciptakan celah
Model konvensional memperlakukan tiap moda sebagai kontrak terpisah. Pengirim berurusan dengan perusahaan trucking, lalu operator kereta, lalu pelayaran. Masing-masing punya dokumen, jadwal, dan definisi "selesai" sendiri.
Celah muncul di sambungannya. Ketika truk tiba lebih cepat dari jadwal kereta, tidak ada satu pihak pun yang berkepentingan memindahkan kargo lebih awal — karena tanggung jawabnya belum berpindah. Kargo menunggu, dan menunggu adalah biaya.
Yang berubah dengan dokumen tunggal
Dalam skema multimoda, seluruh perjalanan berada di bawah satu dokumen kontrak. Satu pihak bertanggung jawab dari titik asal sampai tujuan, apa pun moda yang dipakai di tengah.
Perubahan ini terdengar administratif, tapi dampaknya operasional. Karena tanggung jawab tidak berpindah di titik transfer, tidak ada lagi jeda menunggu serah terima. Perencanaan dilakukan untuk seluruh rute sekaligus, bukan per segmen.
Apa yang perlu dievaluasi pengirim
Sebelum membandingkan tarif, ada baiknya memetakan dulu berapa banyak titik transfer yang dilalui kargo Anda, dan berapa lama rata-rata kargo diam di setiap titik itu. Angka itu sering lebih menentukan total biaya daripada selisih tarif per segmen.
Pertanyaan berikutnya sederhana: kalau terjadi keterlambatan di satu segmen, siapa yang bertanggung jawab menyesuaikan segmen berikutnya? Dalam kontrak terpisah, jawabannya sering: tidak ada.